Rabu, 07 Desember 2016

Shafira Karima Ardanareswari (394824)


MUSEUM KERATON


Kamis, 3 November 2016 saya dan teman-teman pergi ke Museum Keraton untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya. Sesampaianya di sana kami di sambut oleh beberapa pemandu. Para pemandu tersebut menawakan diri untuk menjelaskan sejarah peninggalan museum. Di dalam Keraton terdapat 3 museum yaitu, Museum Hamengkubuwono IX, Museum Batik, dan Museum Cangkir.
            Museum pertama yang saya kunjungi adalah Museum Hamengkubuwono IX. Di dalam museum tersebut banyak sekali peninggalan peralatan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX  seperti, peralatan kerja sultan, penghargaan yang di terima sultan, pakaian sultan, dan lain-lain.


            Setelah puas melihat segala macam peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono IX saya mengunjungi Museum Batik. Banyak sekali kain batik degan berbagai macam corak, motif, dan warna di dalam Museum Batik tersebut. Bahkan, setiap kain batik mempunyai kegunaannya sendiri-sendiri. Seperti kegunaan untuk upacara, pernikahan, dan penobatan.  



            Museum terakhir yang saya kunjungi adalah Museum Cangkir. Museum ini menyimpan berbagai macam cangkir yang sultan gunakan sendiri atau untuk menyuguhkan kepada tamu. Terdapat berbagai macam motif dan corak cangkir. Ada yang berwarna biru, pink, hijau, dan lain-lain. Selain cangkir, di museum ini menyimpan berbagai macam sendok, tutup cangkir, piring kecil dan masih banyak lagi.




Yusuf Nur Cahyanto (399785)

Museum Siti Hinggil Pagelaran Karaton Ngayogyakarta

Selasa, 29 November 2016

  Kuliah saat itu berakhir pada pukul 12.40. Saya dan 3 teman saya bergegas menuju museum, tujuan kita langsung menuju Museum Siti Hinggil Pagelaran Karaton Ngayogyakarta. Sebuah museum yang terdapat di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit dari UGM.
       Sesampainya di sana kami langsung menuju loket untuk membeli tiket seharga Rp.4000 per orang, dan untuk biaya fotografi sebesar Rp.2000,. Setelah membayar kita langsung masuk ke area Keraton dan langsung menuju ruangan museum. Di sana terdapat beberapa keris dan kuluk (semacam mahkota yang dipakai Sultan). Setelah itu kita menuju ruangan berikutnya, di sana terdapat satu set gamelan dan ada pula sebuah pedati kuno. Sayang sekali kita tidak menemukan kereta kencana yang terpajang di sana. biasanya setiap acara sekatenan ada kereta kencana yang dipajang.
      Yang saya suka dari museum ini adalah lokasinya yang terdapat di dalam lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta.


Museum Dharma Wiratama

Rabu, 30 November 2016

       Pada pukul 14.00 saya dan teman saya berangkat menuju Museum Dharma Wiratama. Sebuah museum angkatan bersenjata milik TNI AD yang letaknya di daerah Terban, Gondokusuman Yogyakarta. Perjalanan dari UGM memakan waktu sekitar 5 menit.
       Sesampainya di sana, kita langsung disuguhi 2 buah tank yang dipajang di depan museum. untuk masuk museum ini kita tidak dipungut biaya sama sekali, tetapi kita wajib melapor dan mengisi daftar hadir yang sudah di siapkan di sebuah pos. selesai mengisi daftar hadir, kita langsung memasuki museum, pertama kita memasuki ruangan Letjen Urip Sumoharjo dan ruangan Panglima Jenderal Sudirman. disitu terdapat sejarah singkat dari kedua pahlawan tersebut. Setelah itu, kita memasuki ruangan inti museum, di sana terdapat beberapa seragam TNI pada masa penjajahan, dan persenjataan perang pada masa penjajahan. ada juga sejarah-sejarah perang, seperti perang palagan Ambarawa, dan perang lainnya. Di sana juga terdapat alat komunikasi pada masa penjajahan seperti radio, telepon kuno, dan ada alat untuk menyiarkan berita asli milik RRI pada masa penjajahan.
      Saya tertarik pada museum ini karena semua barang-barang pada masa penjajahan masih tertata rapi, terawat. dan sejarah pahlawan dari Purworejo seperti Letjen Urip Sumoharjo, dan Jenderal Ahmad Yani yang terdapat di museum ini.




Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Kamis, 1 Desember 2016

  Sore itu, pada pukul 15.00 saya dan teman saya melanjutkan misi untuk mengunjungi museum. kali ini saya mengunjungi Museum Vredeburg Yogyakarta. Sebuah museum yang letaknya di jalan Jenderal A. Yani 6 Yogyakarta yang isinya tentang sejarah dari masa perjuangan sampai dengan masa Orde Baru bangsa Indonesia. Perjalanan dari UGM memakan waktu sekitar 10 menit.
        Sesampainya di sana, kami langsung memarkirkan motor dan dikenakan biaya sebesar Rp.2000. setelah itu kami menuju loket untuk membeli tiket masuk. Harga tiket masuk museum sebesar Rp.2000 per orang. setelah membeli tiket, kami langsung memasuki museum. di dalam museum terdapat beberapa ruangan yang berisi diorama-diorama dari masa perjuangan sampai dengan masa Orde Baru. Di setiap diorama ada tombol yang apabila ditekan tombol tersebut akan ada suara yang menceritakan setiap kejadian yang ada pada masa yang ada pada diorama tersebut.
       Saya tertarik pada museum ini karena sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari masa Perjuangan sampai masa Orde Baru yang cukup lengkap dan dapat menjadi referensi liburan keluarga.





Wulan Nurrahma A (394826)



1.       Museum Vredeburg

Museum ini terletak di kawasan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Museum ini buka pada hari selasa sampai dengan minggu dan tutup pada hari senin dan libur nasional. Saya dan teman – teman saya mengunjungi museum ini pada hari Jumat. Sebelum masuk kita cukup mengeluarkan uang 2000/orang sebagai tiket masuk. Museum ini sebenarnya adalah benteng yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Tetapi pada masa kini benteng itu diubah menjadi museum untuk menyimpan sejarah Indonesia.
Ibu Fatmawati (penjahit Bendera Pusaka Merah Putih)


Menurut saya, Museum Vredeburg ini dapat terbilang bersih, rapi, dan terawat. Tampak dari luar museum ini kelihatan kecil dan saya berpikir di dalamnya pasti sedikit sekali benda bersejarah tersimpan. But no, don’t judge a book by its cover. Setelah masuk ke dalam saya dapat melihat sejarah Indonesia lengkap dengan benda – benda peninggalannya mulai dari penjajahan Belanda sampai Indonesia merdeka. Masa lampau Indonesia diceritakan melalui diorama – diorama dan ada juga beberapa patung. Terdapat juga layar sentuh atau touch screen bagi pengunjung yang ingin membaca sejarah Indonesia. Pokoknya museum ini sangat mengedukasi. Sebagai nilai tambahan dari museum ini, walaupun di luar sangat panas tapi di setiap ruangannya terdapat AC, jadi tenang saja kamu tidak perlu kepanasan di dalam dan dapat melihat – lihat seleluasa dan senyaman mungkin.
Patung Ilustrasi (rakyat Indonesia melawan penjajah)


Museum ini recommended bagi kamu yang penasaran dengan masa lampau Indonesia  dan bagi kamu yang pecinta sejarah. Dengan biaya masuk yang murah kamu sudah dapat menikmati museum ini dengan fasilitas yang nyaman dan menambah ilmu.

2.       Museum Sonobudoyo

Masih dalam lingkungan Kraton Kesultanan Yogyakarta, saya mengunjungi museum Sonobudoyo. Terletak tidak jauh dari Museum Vredeburg, tetapi menurut saya museum ini letaknya agak terpencil mungkin karena diapit oleh bangunan lain. Dan sama halnya dengan Vredeburg, sepertinya museum – museum yang berada di lingkungan kraton hanya buka pada hari selasa sampai dengan minggu dan tutup pada hari senin dan libur nasional. Hanya dibutuhkan biaya 3000/orang untuk dapat menikmati museum ini.
Ruang Alat Musik Gamelan
Bangunan museum ini termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Sudah bisa terlihat dari luar bahwa museum ini nyaman, rapi, dan bersih. Setelah pintu masuk, saya memasuki ruangan bagian depan yang ditutupi dengan dinding dari kaca. Ruangan ini menyuguhkan pengunjung dengan penampakan alat musik gamelan. Saya tidak memahami gamelan tapi saya rasa alat musiknya ini lengkap karena banyak sekali alat musik yang berbeda di sana. Setelah itu saya lanjut melihat – lihat dan ternyata museum ini luas juga tidak seperti yang saya kira. Museum ini menyimpan koleksi sejarah dan kebudayaan Jawa. Didalamnya terdapat ruang wayang yang menampilkan koleksi Wayang Purwa, Wayang Kancil, Wayang Sadat dan Wayang Wahyu. Dari ruang wayang ini pengunjung dapat mengetahui berbagai jenis wayang, asal – usul dan sejarah dunia pewayangan. Selanjutnya ada ruang batik yang memamerkan koleksi batik dengan motif yang berbeda – beda, koleksi bahan, peralatan dan proses pembuatannya. Ada juga ruang ukir yang menampilkan ukiran khas Jawa Tengah seperti gebyog patang aring. Selanjutnya terdapat ruang mainan dan senjata tradisional, ruang purbakala (koleksi peninggalan masa prasejarah), logam (koleksi benda logam zaman dahulu), topeng, dan Bali (koleksi yang berkaitan dengan adat dan budaya Bali dan penyebaran agama Hindu).

3.       Monumen Jogja Kembali

Monumen yang berbentuk kerucut ini terletak di Ringroad Utara. Monumen ini dikelilingi oleh halaman yang luas dan hijau yang malamnya digunakan sebagai taman lampion. Bangunan monumen ini juga dikelilingi oleh kolam air. Nama monumen ini disingkat menjadi Monjali. Dengan tiket masuk 10000/orang kita sudah dapat berkeliling dan melihat-lihat dengan puas.
Diorama
Sepertinya museum negara dirawat dengan sangat baik. Ini adalah museum negara ketiga yang saya kunjungi dan semuanya bersih dan rapi. Saat memasuki halamannya, first impress saya adalah love it! Tanamannya banyak dan hijau – hijau, kita juga dapat berjalan santai sambil berfoto.
 Di taman depan saya bisa melihat meriam dan replika pesawat yang dipakai dalam peristiwa perjuangan. Selanjutnya memasuki halaman museum terdapat dinding yang berisi daftar nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III. Bangunan monumen terdiri dari tiga lantai. Di lantai satu saya dapat melihat replika, foto, dokumen bersejarah dan patung –patung tokoh yang sangat berperan dalam sejarah. Juga terdapat perpustakaan yang menyediakan referensi-referensi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Adapula ruangan serbaguna lengkap dengan panggung yang dapat dimanfaatkan oleh umum. Kemudian untuk naik ke lantai dua saya harus keluar dari ruangan lantai satu dan menaiki anak tangga di bagian depan monumen. Lantai dua adalah ruangan khusus diorama. Terdapat 10 diorama yang diawali dengan Agresi Militer Belanda memasuki kota Yogyakarta dalam rangka menguasai kembali Replublik Indonesia pada tanggal 19 Desember 1948 diakhiri dengan adanya Persetujuan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949. Diorama disajikan sesuai kronologis waktu sehingga pengunjung dapat memahami urutan kejadian. Di lantai 2 bagian dinding luar terdapat Relief Perjuangan Fisik dan Diplomasi Perjuangan Bangsa Indonesia. Salah satu relief nya yaitu  pernyataan dari Sri Sultan HB IX yang menyatakan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta adalah bagian dari Negara Republik Indonesia. Terdapat relief juga dilantai tiga, tapi saya tidak tahu jelas relief apa itu karena sangat ramai di atas dan ruangannya juga sempit.





R. Gilang Septa Mulya (399779)

MUSEUM BENTENG VREDEBURG

         Hari ini saya dan teman saya berniat untuk pergi kebeberapa museum yang ada di Yogyakarta, selain karena kami mendapat tugas dari mata kuliah (Dasar Dasar Ilmu Budaya) saya juga ingin lebih tau ada apa saja di Yogyakarta ini, karena kebetulan saya sendiri bukan orang Yogya dan termasuk baru di Yogyakarta. Di hari yang cerah kami berangkat menuju Museum Benteng Vredeburg yang beralamatkan di Jl. Jend. A. Yani No.6 Yogyakarta,  Setelah memakirkan motor dan membayar parkir motor Rp 2000 dan tiket masuk seharga Rp 2000.

          Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara di keempat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga. Dan dijadikan Museum Khusus Perjuangan Nasional (Museum Benteng Yogyakarta) pada tanggal 23 November 1992.

          Kesan pertama ketika saya masuk kedalam museum saya terkesan dengan bangun lama yang masih terawat dan masih terlihat kokoh dan banyak sekerumpulan orang yang sedang berkunjung juga dan dalam berbagai kegiatan. Kami langsung meuju ruang diorama dan melihat lihat berbagai macam benda bersejarah seperti pakaian tentara Indonesia, pakaian PMR dan Pakaian dari karung goni dan ada peninggalan dari rektorat pertama UGM yaitu Alm. Sardjito, bahkan terdapat sebuah ruangan dimana terdapat area game tentang sejarah di Indonesia. Dan yang saya amati dari Museum Benteng Vredeburg memiliki:

Bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat.
Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai masa Orde Baru.
Koleksi benda-benda bersejarah,foto-foto dan lukisan tentang perjuangan nasional.
Dan berbagai Fasilitas untuk menunjang kegiatan selama berada di museum .
Setelah selesai berkeliling dengan perasaan yang puas, kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk pergi ke beberapa museum lagi.

Toga Prof. Dr. Sardjito
Pertemuan Perumusan UGM


Mata Uang Jepang


Pakaian Tentara Pelajar Sugeng Darsono


MUSEUM KERATON YOGYAKARTA

          Kami berangkat menuju Museum Keraton Yogyakarta yang berada didekat Malioboro, kami memakirkan motor kami dan membayar parkir Rp 2000 dan tiket masuk Rp 5000 tetapi ada tambahan biaya lagi untuk perizinan video/photo Rp 2000.

          Museum Keraton merupakan tempat tinggalnya Sultan Yogyakarta dan penjaganya merupakan abdi dalem yang memiliki kepatuhan dan kesetiaan yang tinggi terhadap sultan. Ketika kmai masuk kami langsung melihat pendopo yang sangat besar dan dikelilingi oleh rantai dan terjaga rapih, setelah kami melihat lihat kami langsung menuju ruangan barang barang peninggalan sultan dan terdapat kaca yang tinggi lalu kami meuju ruangan di sampingnya yang terdapat satu set gamelan tetapi tidak untuk dimainkan dan beberapa foto Sultan Hamengku Buwono IV hingga yang ke X dan beberapa foto kereta kuda.

          Kami tidak berada lama di museum keraton karena hari mulai mendung dan kami harus segera pergi menuju museum lain.

Sri Sultan Hamengkubuwana X bersama Ratu Hemas

Cermin Koleksi Keraton
Gamelan Penabuh Keraton



Tempat Upacara Keraton


MUSEUM DIRGANTARA MANDALA TNI-AU

           Waktu menuju sore hari dan kami bergegas menuju Museum Dirgantara TNI AU, selama dalam perjalanan kami melihat deretan sekolah dari SMP,SMA,SMK Dirgantara dan berada di area TNI AU,  Kami memarkirkan motor kami di area parkir dan membayar Rp 200 dan tiket masuk sebesar Rp 4000.

           Museum Dirgantara diresmikan pada tanggal 4 april 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin. Ketika kami masuk kearea museum kami disuguhi pesawat yang di parkirkan di lapangan dan meiliki bentuk yang yang hebat  dan ketika berada di dalam museum kami melihat berbagai peninggalan bersejarah yang berasangkutan dengan kegiatan TNI AU dan Penerbangan seperti Rudal,senjata tempur,pakaian teknik,pilot,TNI AU dll, bahkan ada contoh pakaian untuk setiap pangkat dan jabatan dari setiap posisi, tetapi bagian yang paling saya suka adalah koleksi senjata dan pesawat yang berada di bagian belakang museum. Walaupun sudah tidak dapat berfungsi lagi tetapi dari melihatnya kita dapat mengetahui seberapa hebat dan beraninya pendahulu kita dalam bidang penerbangan dan membuktikan bahwa indonesia harus di perhitungkan dalam pasukan TNI AU.

          Setelah mengelilingi museum kami menuju pintu keluar dan terdapat toko souvenir yang menyediakan berbagai macam oleh oleh yang bersangkutan dengan museum dari miniatur pesawat, pakaian dan tas dan yang lainnya, lalu kami menuju keluar dan melihat hari mulai gelap dan kami menuju keparkiran untuk menuju motor kami dan pergi pulang.

Patung Dua Pilot Indonesia
Pakaian dalam (Pol.) TNI-AU

Senjata TNI-AU

Helikopter

M. Wildan Akifin (405722)

MUSEUM XT SQUARE (DE ARCA DAN DE MATA)

Sepulang kuliah, saya dan teman-teman kontrakan saya berniat untuk mengunjungi salah satu museum di Yogyakarta. Salah seorang teman saya menyarankan untuk ke museum lilin yang katanya terkenal di Yogyakarta dan sempat jadi perbincangan di salah satu stasiun televisi. Kami pun mencari tentang museum lilin tersebut, ternyata bernama De Arca dan De Mata di XT Square. Kami langsung tancap gas menuju museum tersebut.
Abdurahman Wahid alias Gus Dur

Sesampai di XT Square, kami parkir kendaraan kami di tempat parkir yang letaknya di basement dan tertata rapi. Kami mulai menelusuri sisi-sisi XT Square. Ternyata, XT Square terbagi atas kafe, pasar kerajinan dan dua museum yaitu De Arca (museum patung lilin) dan De Mata (museum gambar 3D). Sempat bingung untuk masuk yang mana. Akhirnya kami memutuskan masuk De Arca. Patung lilin yang dipamerkan di De Arca ada berbagai macam mulai dari pahlawan nasional, tokoh dunia, karakter superhero sampai artis dan pesepakbola. Kami pun mulai mengabadikan momen itu dengan memotret melalui smartphone kami.

Mbah Maridjan
Saya merasa belum puas karena belum mencicipi museum satunya yaitu De Mata. Rasa penasaran saya memutuskan untuk kembali kesana dan masuk ke De Mata bersama keluarga saya yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan mereka juga penasaran dengan museum tersebut ketika saya pamerkan foto saya disana. Sebelum ke De Mata, keluarga saya ingin ke De Arca terlebih dahulu. Ketika saya kedua kali kesana bersama keluarga saya, disana sudah terdapat ruangan baru yang berisi Bapak Habibie dan Ibu Ainun, Lady Diane dan Pangeran Charles pun nampak dibuatkan ruangan sendiri. Patung-patung lilin disana pun diperbarui kembali dengan hadirnya Messi, Mbah Maridjan dan lain-lain. Setelah itu, barulah kami ke De Mata. De Mata berisi gambar-gambar 3D yang tampak nyata dan lukisannya juga bertemakan macam-macam, ada monster inc., Hulk, lukisan tentang retak-retaknya jalan dan lain sebagainya. Orang-orang yang berkunjung kesana disarankan memakai kamera atau smartphone yang memiliki fokus tajam.

Hulk (De Mata)

Harga Tiket :

Senin-Jumat = Rp 35.000/Orang
Sabtu & Minggu = Rp 60.000/Orang
De Arca + De Mata = Rp 80.000/Orang

Alamat :
Jalan Veteran No. 150-151, Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta


MUSEUM PUSAT TNI-AD DHARMA WIRATAMA

Peta Palagan Tentara Pelajar
  Suatu hari tidak ada pekerjaan setelah kuliah, saya diajak oleh teman saya untuk pergi ke museum. Saya menyarankan untuk pergi ke museum seberang timur Gramedia yaitu Museum TNI-AD Yogyakarta. Kami pun berangkat menuju museum tersebut pada siang hari yang panas terik.

        Kami kebingungan mencari parkir sesampainya di museum tersebut karena kami membawa motor yang ukurannya sedikit besar dan parkir motor sudah penuh. Kami pun akhirnya parkir di parkiran mobil. Setelah itu, kami mengisi daftar hadir di pos penjaga museum. Ketika kami akan melewati pintu masuk museum, kami disuguhkan dengan ruangan pribadi untuk koleksi barang-barang dari Jenderal Urip Sumahrjo dan Jenderal Sudirman. Kemudian kami masuk ke dalam museum dan disana terdapat berbagai barang-barang dan pakaian TNI-AD sejak masa penjajahan. Kami mencoba masuk lebih dalam lagi, disana terdapat ruangan untuk berbagai senjata dari masa penjajahan dan alat komunikasi penyiaran yang digunakan para prajurit waktu itu. Sebelum keluar, kami disuguhkan ruangan yang diberi nama ruang dapur dan disana terdapat replika menyerupai dapur yang digunakan prajurit TNI-AD waktu masa penjajahan.

Replika Dapur


Harga Tiket : Gratis

Alamat :
Jalan Jenderal Sudirman No. 75, Terban, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta

MUSEUM PUSAT TNI-AU DIRGANTARA MANDALA

         Hari itu saya dan teman saya melakukan kunjungan ke museum-museum yang ada di Yogyakarta untuk memenuhi tugas mata kuliah dasar-dasar ilmu budaya. Setelah saya dan teman saya selesai mengunjungi dua museum lainnya. Kami meneruskan perjalanan museum kami ke Museum Dirgantara.

Replika Roket

         Sebelum kami sampai di museum, kami dikejutkan dengan pesawat yang melintas rendah di atas kepala kami. Setelah itu, kami parkir di depan ruko-ruko penjual makanan dan minuman di sekitar museum. Sebelum masuk, di depan museum terdapat patung dua orang pilot TNI-AU dan terdapat replika pesawat. Kemudian, kami masuk ke museum dan disuruh untuk mengisi daftar hadir terlebih dahulu. Ketika kami masuk museum, kami melihat foto-foto para prajurit TNI-AU yang dipampang berjejeran dan patung empat orang pilot. Kemudian kami memasuki ruangan yang berisi lencana tanda pangkat TNI-AU dan terdapat replika pesawat perang pertama. Setelah itu, kami mulai memasuki ruangan yang disana dipamerkan berbagai seragam-seragam prajurit TNI-AU dari masa ke masa. Kami mulai memasuki ruangan berbagai senjata dan disana terdapat pintu memasuki ruangan yang berisi berbagai macam pesawat yang sangat besar dan dapat kita naiki. Kemudian sebelum pintu keluar disana terdapat ruang diorama seperti di Museum Vredeburg, beberapa kamera yang digunakan prajurit TNI-AU, replika mini pesawat dan rudal, dan toko suvenir barang pernak-pernik khas TNI-AU.


Harga Tiket :
Rp 4.000/Orang

Alamat :
Kompleks Landasan Udara Adi Sucipto, Jalan Kolonel Sugiono, Banguntapan, Kab. Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Nadya Annisa Noer (405723)

                

              Museum Terbaik di Indonesia  , Museum Ullen Sentalu  
         

       Ditengah kuliah dan rutinitas sehari-hari di kampus saat itu, yang terlihat monoton, (mungkin karena saya mahasiswa baru) tugas mengunjungi museum  sekitar Jogja telah memberikan kesan tersendiri bagi saya, selain memiliki tugas yang menurut saya menyenangkan, yaitu mengharuskan mahasiswanya beranjak dan keliling bukan hanya duduk dan mengetik, museum yang harus dikunjungi tidaklah hanya satu museum saja, namun tiga. Rasanya sudah seperti menyempatkan berlibur bersama teman-teman. Tetapi, karena merupakan tugas, jadi terlaksana dengan pasti.. Saya juga sangat puas melihat museum yang ada di Jogja dengan berbagai khasnya yang telah menambah wawasan saya tentunya karena memiliki konten yang berbeda dengan  museum-museum yang ada di kota asal saya, Jakarta. Bahkan disini saya menemukan museum yang diberikan penghargaan sebagai museum terbaik di Indonesia. Mengingat perbedaan museum yang ada di Jogja dan di Jakarta, membuat saya berpikir betapa banyak museum yang berbeda pula di provinsi lainnya di Indonesia, betapa banyak cerita, budaya dan sejarah di negara kita, menunjukkan betapa kayanya pulau kita, Indonesia.


Saya dan Yasmin di taman Museum Ullen Sentalu

Perjalanan  mengunjungi museum pertama merupakan perjalanan yang lumayan spontan, saya pergi bersama dengan lima teman kelas saya selesai pelajaran pada hari Selasa, 25 Oktober 2016. Padahal lokasi dari museum ini terbilang jauh,  yaitu Jalan Kaliurang KM 25, namun tidak apa-apa, cuaca hari itu sangat mendukung untuk pergi sedikit jauh, hehe. Mengenai Jakal KM 25 Kawasan tersebut juga menjadi lokasi beberapa wisata terkenal Jogja.  Menggunakan mobil teman saya, Kafana, kami sampai di Museum Ullen Sentalu dalam waktu kurang lebih 30 menit, beruntung tidak ramai karena hari itu weekdays dan waktu kerja.
Dengan harga Rp25.000 saja, pemandangan awal museum ini sudah menyuguhkan kesan yang mewah dan berseni, bentuk bangunannya unik, tidak kuno tetapi terlihat modern tanpa meninggalkan ke autentikan dan sisi tradisionalnya. Sistem dari museum ini adalah, setiap pengunjung (rombongan 3-4orang/5-10 orang) akan mendapatkan tourguide, agar dapat menuntun pengunjung ke bagian-bagian ruangan dan menjelaskan isi museum dengan cerita yang detail, memang harus begitu. Karena museum ini tidak meletakkan banyak tulisan, namun hanya gambar, lukisan, dan pajangan. Ditambah lagi barang-barang didalamnya yang terlihat sangat terjaga dan terawat,dengan kualitas nilai seni tinggi, maka pengunjung tidak dapat dengan bebas kesana-kemari sendiri, namun tetap bersama tourguide.
 Museum Ullen Sentalu merupakan sebuah museum seni dan budaya Jawa yang didirikan oleh keluarga Haryono. Lokasi museum ini, seperti yang saya bilang diatas, terletak di Kaliurang KM25, lereng Gunung Merapi, udaranya sejuk dan dingin ketika hujan. Sayang sekali saya lupa nama tourguide yang memandu kami, ia adalah seorang wanita yang terlihat berumur tidak jauh diatas kami, namun gaya menjelaskannya sangatlah menarik dan jelas. Pertama, kami dibawa kedalam ruangan bawah tanah,  untuk mencapainya kami sedikit menuruni tangga dan bebatuan kecil. Sebelumnya, dari yang saya lihat museum ini memiliki dua bangunan utama yaitu ruang bawah tanah dan bangunan museum diatas kolam yang berupa ruangan-ruangan kecil untuk koleksinya. Kembali lagi ke ruangan pertama, yang merupakan ruang favorit saya, yaitu ruangan  bawah tanah.
Ruangan tersebut tidak tidak berdinding putih, atau dinding pada umumnya namun seperti berdindingkan batu atau tanah liat yang menyesuaikann dengan suasana dibawah tanah, namun memberikan kesan yang nyaman dan hangat karena berwarna coklat. Ruang bawah tanah tersebut adalah Ruang Seni Tari dan Gamelan yang berisi koleksi seperangkat alat musik gamelan dan foto-foto keluarga kerajaan ketika sedang menari atau melihat pentas tari, ada juga lukisan seorang perempuan Jawa dengan kostum tarinya. Masih di ruang bawah tanah, selanjutnya ada koridor megah, dan lorong hitam dengan lampu-lampu gantung dengan gaya modern, di ruangan ini terdapat foto-foto silsilah keluarga kerajaan Mataram, dengan seni berpakaian dan tema pada zaman itu. Merepresentasikan kemegahan budaya Mataram, namun saking banyaknya dan panjang cerita tentang keluarga kerajaan tersebut, saya kurang bisa paham keseluruhan tentang silsilahnya apalagi menghafalnya .
Bangunan kedua, tetap sangat unik, terdiri dari 5 bangunan kecil, berdiri diatas kolam air, dengan arsitektur yang belum pernah saya liat sebelumnya yang isinya adalah Ruang Batik dan Ruang Artefak. Berisi koleksi batik kuno, jenis-jenis batik yang dipakai oleh keluarga kerajaan, perbedaan batik Solo dan Jogja dengan warna dan motifnya. Lalu ada kumpulan syair dan surat putri-putri kerajaan dengan sahabat penanya yang berbasaha Belanda, cukup membuat saya merinding karena bahasa dan isi syair yang menggunakan bahasa Indonesia lama yang sangat indah, inginnya saya agar bisa menulis seperti putri-putri Mataram juga. Lalu ada juga arca dan lukisan-lukisan yang menunjukkan kehidupan keraton pada masa itu. Seluruh ruangan di museum ini sengaja dibuat dingin, demi menjaga keutuhan koleksi dan bangunan itu sendiri. Ingin sekali saya memberikan foto ruangan dan bangunannya, namun kamera SLR atau hp tidak diperbolehkan, hingga hanya bisa mengambil foto diluar ruannganya, masih di lingkungannya. Namun saya sarankan saja untuk menikmati kemegahan museum Ullen Sentalu.
 dengan mengunjungi  langsung. Saya akan kembali ke museum ini, bersama dengan keluarga saya dilain waktu :)



 Ruang istirahat dan dijamu dengan minuman jahe hangat








           Museumnya Sang Maestro, Museum Lukis Affandi


 Berhubung dengan jadwal dan padatnya kegiatan di kampus, perjalanan mengunjungi museum yang kedua baru tersampaikan sekitar 3 minggu setelah Ullen Sentalu. Kali ini, saya hanya pergi bersama Bewinda, karena yang lainnya memiliki keinginan untuk pergi ke museum yang berbeda. Museum Lukis Affandi yang terletak di Jalan Laksda Adisucipto, terletak dipinggir jalan, namun sangat menarik perhatian karena bangunannya besar dan berbentuk seperti tempurung besar, dan memiliki bangunan kerucut seperti istana. Harga tiket masuk museum ini 20 ribu rupiah, hari itu, kami juga dapat kupon eskrim gratis di kafe-nya yang bernama cafe loteng.
Museum ini terdiri atas empat galeri beserta bangunan pelengkap seperti studio, dan bangunan rumah tempat tinggal Affandi dan keluarganya , tetapi rumah tidak dibuka untuk umum. Saat itu kami hanya bisa mengunjungi dua galeri karena dua lainnya sedang dalam perbaikan. Galeri I khusus hasil karya sang maestro sendiri, seperti lukisan potret diri, keluarganya, serta lukisannya yang terkenal dengan tema hewan. Selain itu, ada beberapa barang kesayangan peninggalan beliau, seperti mobil, sepeda, pipa rokok, dan baju oblong kesayangannya yang dipakai saat melukis.
Galeri II tidak hanya berisi karya-karya Affandi, tetapi beberapa pelukis kondang dari Indonesia yang saya tidak tahu siapa saja karena tidak bisa masuk, lalu ada galeri III dan IV yang merupakan galeri dari karya anak dan cucu Affandi, yaitu Kartika dan Didit Affandi.  Ada juga pajangan seni benang wol oleh istri Affandi. Galeri-galeri ini terlihat menarik dengan wallpaper dinding, kolase ubin dan tata ruangnya, juga langit dinding yang terbuat dari anyaman bambu.




"Peacock" oleh Affandi


Toko keil disamping Cafe Loteng, Museum Ullen Sentalu



Hal spesial dari museum ini yaitu, suasananya yang sangat damai, bersni dan dibuat khusus agar pengunjung merasa santai sambil mengelilingi galeri. Cafe, sanggar dan toko kecil juga menambah nilai museum ini. Merupakan kebanggaan sendiri melihat karya-karya Affandi yang sudah mendunia dan dikelola dengan baik di museum ini. Walaupun karya asli Affandi mencapai 2000 lebih lukisan, yang ada di museum ini sudah sangat memuaskan. Saya tidak akan bosan jika diajak lagi untuk mengunnjungi museum Affandi ini berkali-kali.


                              


Perjalanan “Asyik” Jogja National Museum


Perjalanan ke museum yang terakhir, atau museum ke-3, sudah saya niatkan untuk mengunjungi Jogja National Museum, dari namanya yang terdengar “besar” dikarenakan ada kata national terpampang di tengahnya, saya sudah mengira ini museum yang paling kekinian di seluruh Jogja. Perjalanan saya tempuh bersama kedua teman, Yasmin dan Kafana. Kali ini, dengan mobil Kafana lagi kami menuju museum tersebut, jaraknya pun terasa jauh karena kami mengikuti GPS, yang mengutamakan jalan tanpa macet dibandingkan jalan tercepat, walaupun menjadi jauh, namun lebih baik karena terbebas dari macet, kami pun sampai di JNM (Jogja National Museum) yang terletak di daerah Gampingan, tepatnya di Jalan Amri Yahya no.1, Gampingan Yogyakarta.
Setelah menempuh jalan yang sedikit panjang, akhirnya kami sampai, museumnya terlihat besar dan seluruhnya berwarna putih, menarik. Jujur saja saya sudah searching tentang museum ini namun hanya sekedar alamat, tetapi di tautan nya saya tidak melihat sedikit penjelasan tentang museum ini, atau mungkin koleksinya berupa apa, namun saya jadi penasaran dan akhirnya datang langsung. Dan benar saja, setelah saya mengelilingi bangunan tersebut dan mencari pintu masuknya beserta loket tiket, dan Yasmin akhirnya bertanya kepada penjaga disana, ternyata museum ini bukanlah sebuah museum yang khusus menyimpan suatu koleksi tertentu, atau diorama sejarah, dan sebagainya seperti museum pada umumnya. Namun ternyata Jogja National Museum adalah museum kontemporer pertama di Indonesia, yang menyuguhkan dan fokus kepada pengembangan presentasi karya seni rupa kontemporer Indonesia, maka museum tersebut buka ketika ada pameran saja, sejumlah program dibuat dengan melibatkan kurator, apresiator seni, dan banyak seniman yang berasal dari Indonesia. Oh iya, selain pameran, berbagai macam aktivitas atau kegiatan juga sering dilaksanakan di JNM, seperti seminar, pertunjukan seni dan diskusi
Walaupun datang di hari yang tidak ada event/pamerannya, saya jadi tahu munculnya museum ini memiliki tujuan dan perhatian besar pada pelestarian dan perkembangan seni budaya Indonesia, saya sangat menyukai konsepnya, sangat inspiratif. Yaitu museum tidak harus selamanya berisikan benda mati atau diorama yang dipajang. Namun dengan apa yang sedang terjadi saat itu juga, aktivitas seni, dapat ditampilkan dan semakin banyak yang mengekspresikan diri di museum tersebut, maka  akan menjadi koleksi tersendiri yang tak ternilai harganya. Sekarang, jika ingin mencari pertunjukan atau pameran seni, bahkan seminar dan diskusi denga para seniman tinggal lihat time schedule aktivitas Jogja National Museum, beberapa contoh aktivitas yang sebelumnya ada di JNM yaitu art summit, 8-16 Agustus 2016, Jogja Delayota Art pada tahun 2015 lalu yang sangat terkenal yaitu ARTJOG pada Mei-Juni lalu.



Jogja National Museum, sisi depan