Tampilkan postingan dengan label Museum Benteng Vredeburg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum Benteng Vredeburg. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2016

Bewinda Hanandita (399772)

Museum Ullen Sentalu

         Waktu itu tanggal menunjukan 25 Oktober 2016 hari Selasa. Saya dan 5 teman saya (Kafana, Nadya, Yasmin, Riris dan Irdha) pergi ke Museum Ullen Sentalu. Awalnya rencana ke museum ini masih sebagai wacana, tapi salah satu dari kami berenam langsung mengusulkan pergi ke sana pada hari itu dan kami langsung menyetujuinya. Museum Ullen Sentalu adalah museum seni dan budaya Jawa. Museum Ullen Sentalu, terletak di daerah Pakem, Kaliurang, Kabupaten Sleman, tepatnya di  Jalan Boyong KM 25, Kaliurang Barat, Hargobinangun, Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami pergi sekitar pukul 12.45 WIB setelah kelas usai. Sesampainya di sana, kami langsung membeli tiket masuk yang harganya 30 ribu rupiah bagi orang dewasa di hari biasa (weekend = 50 ribu/orang dewasa). Di dalam museum, kami ditemani oleh guide pemandu dari awal masuk sampai selesai.

        Pada area satu, terdapat banyak lukisan penari dan beberapa gamelan. Lalu masuk ke lorong area dua, disana berisi foto-foto keluarga Keraton, baik keluarga Keraton Jogja maupun Surakarta. Di area selanjutnya kami banyak menjumpai jenis-jenis batik milik keluarga kerajaan. Sayangnya selama tour museum, kami tidak diperbolehkan untuk mengambil gambar apapun sampai pada tempat khusus untuk berfoto yang letaknya ada di akhir tour. Arsitektur museum ini sangatlah indah dan menakjubkan menurut saya. Walaupun kesan mistis sangat terasa bagi saya yang termasuk orang yang sensitive terhadap hal-hal seperti itu, namun keindahan arsitekturnya tidak bisa saya pungkiri. Ditambah dengan penggunaan alat modern dan canggih dalam pengelolaan museum, seperti penggunaan sensor otomatis untuk lampu-lampu area museum yang akan dimasuki pengunjung.

 

        Museum Ullen Sentalu bisa menjadi tujuan wisata yang wajib dikunjungi bila berkunjung ke Jogjakarta. Selain keindahan arsitekturnya, kebersihan museum ini juga patut diacungi jempol. Tak hanya itu, keramahan dari pegawai yang bekerja di museum ini juga layak diapresiasi. Museum ini buka dari hari Selasa-Minggu jam 08.30-16.00 WIB.

Museum Affandi

        Jumat 2 Desember 2016 adalah hari saya pertama kali ke Museum Affandi di Jogjakarta. Saya pergi hanya ditemani oleh Nadya. Setelah mengambil kartu Ujian Akhir Semester di kampus, saya dijemput Nadya menggunakan motor kesayangannya. Setelah itu pergilah kami ke museum Affandi. Sesampainya di museum, kami membeli tiket masuk dengan harga 20 ribu rupiah per-orang. Museum ini terbilang unik bagi saya, karna arsitekturnya yang tidak biasa. Dengan jiwa artsy yang dimiliki oleh mendiang Affandi, terbentuklah bentuk-bentuk bangunan yang ada di museum ini. Ada yang berbentuk seperti tempurung kura-kura, lalu ada yang menjulang tinggi seperti tower dan masih banyak lagi. Dengan warna bangunan yang didominasi oleh warna hijau tosca, membuat museum ini terlihat sangat mencolok jika dilihat dari jalan raya.

        Ada beberapa bagian yang dibagi dalam museum ini, ada Galeri 1, Galeri 2 dst. Di Galeri 1 berisi lukisan-lukisan asli hasil karya Affandi. Seperti lukisan “peacock”, potret diri dari Affandi, lukisan tentang istri dan keluarganya, dan masih banyak lagi. Dalam galeri 1 juga terdapat mobil kesayangan Affandi yaitu Colt Gallan tahun 1976 yang berwarna kuning kehijauan yang dimodifikasi sehingga menyerupai bentuk ikan. Ada juga lemari yang berisi cerutu milik Affandi, baju yang digunakan oleh Affandi untuk melukis beberapa karyanya dan beberapa benda lain. Lalu saya melanjutkan tour museum ke Galeri 2, namun sayang galeri 2 pada saat itu ditutup karna adanya renovasi. Akhirnya kami pergi ke galeri 3 yang berada dekat galeri 2. Di galeri 3 tempatnya cukup luas, mungkin hampir sama luasnya dengan galeri 1. Di area ini terdapat lukisan-lukisan dari istri maupun anak-anak Affandi. Disini juga terdapat televisi yang berisi film dokumenter dari Affandi dengan subtitle Belanda, namun Affandi berbicara menggunakan bahasa Inggris dalam film tersebut.

 


      Selanjutnya kami pergi ke tempat beristirahat yang bernama Cafe Loteng, karna kami mendapat layanan free ice cream atau soft drink dari tiket yang kami beli. Setelah cukup beristirahat sejenak, kami melanjutkan melihat-lihat museum unik ini.  Di dekat cafe, terdapat rumah pribadi dari keluarga Affandi. Di depannya terdapat seperti toko souvenir dan oleh-oleh dari museum Affandi ini. Disana dapat kita jumpai seperti kain batik, baju, selendang, tas dan lain-lain. Di dekat tempat itu pula terdapat kolam tanpa air yang sangat artsy dengan warna dominan ungu muda dan biru.

        Museum ini menjadi salah satu museum favorit saya, karna keunikan dan kebersihannya. Suatu kebanggaan bahwa Indonesia memiliki sosok pelukis hebat seperti Affandi. Dan kita bisa menikmati hasil-hasil karyanya di museum Affandi ini.

Museum Benteng Vredeburg

       Sabtu 3 Desember 2016, saya dan teman saya pergi mengunjungi Museum Benteng Vredeburg. Dalam kesempatan ini saya tidak bisa menikmati berkeliling museum dalam waktu yang lama karna saya harus segera ke stasiun Lempuyangan untuk kembali ke kota Solo. Saya hanya bisa berkeliling sebentar. Tapi yang saya suka dari museum ini adalah bentuk arsitekturnya yang klasik. Dalam museum ini terdapat beberapa koleksi museum yang menggambarkan perjuangan para pendiri bangsa dalam meraih kemerdekaan Indonesia, terkhusus untuk kejadian yang terjadi di kota Jogja.

Jam Buka Museum :
    Selasa - Jumat: 08.00 - 16.00 WIB
    Sabtu - Minggu: 08.00 - 17.00 WIB
    Hari Senin dan hari libur nasional: Tutup

      Untuk masuk ke museum ini tidak diperlukan biaya yang menguras dompet. Harga Tiket Masuk untuk Dewasa: Rp.2.000,00 dan Anak-anak: Rp.1.000,00. Sangat murah untuk sekelas museum dibandingkan museum-museum yang lain.


Rismalita Ayu Bahendra Putri (399782)



Kunjungan museum saya lakukan bersama teman-teman sekelas saya dan kakak saya. Karena masalah manajemen waktu saya yang tidak teratur, maka saya memutuskan untuk mengunjungi Kraton Yogyakarta yang sudah terdapat beberapa musum untuk dikunjungi dalam satu waktu. Saya dan teman-teman saya berangkat bersama-sama mengendarai sepeda motor dan saling berboncengan.
Sebelum ini, saya pernah mengunjungi Kraton Yogyakarta sebelumnya. Saya masih ingat ketika dulu saya tidak bisa menangkap apa yang pemandu wisata ujarkan karena saya masih kecil dan hanya senang melihat suatu hal yang baru. Sekarang saya merasa lebih bahagia ketika mengunjungi Kraton, Karena setidaknya saya sebagai orang Yogyakarta bisa mengerti seperti apa isi Kraton sekarang.

Ketika sudah sampai, saya dan teman-teman semua langsung menuju loket. Kami semua langsung membayar biaya masuk sebesar Rp. 5000,00 dan biaya retribusi untuk kamera (termasuk kamera telepon genggam) sebesar Rp. 1000,00. Ketika kami akan memulai kujungan, saya dan teman-teman langsung didampingi oleh seorang pemandu. Pada awalnya saya dan teman-teman menolak untuk dipandu, namun karena saya merasa bosan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka saya bersama kakak saya dan Fira berinisiatif untuk meminta lagi pemandu tersebut (pemandunya ibu-ibu) untuk memandu kelompok kecil kami. Lalu perjalanan pun dimulai.

Pertama-tama, rombongan kecil ini, yang terdiri dari saya, kakak saya, dan Fira, dipandu dan dijelaskan tentang Kraton secara garis besar. Seperti bagian-bagian Kraton, silsilahnya, dan bahkan penjelasan tentang pendopo utama yang tidak boleh diinjak hingga tempat tinggal Sultan sekarang. 

Kemudian kami dipandu menuju museum souvenir yang terdiri dari dua ruangan. Setiap ruangan menyimpan berbagai macam souvenir yang berasal dari berbagai macam negara, seperti Cina, Belanda, Jepang, Perancis, dsb. Souvenir-souvenir tersebut berupa kristal, guci kecil, cangkir, teko, dsb. 


                                                                Sovenir dari berbagai negara
Setelah itu, kami dipandu lagi menuju museum Sri Sultan HB IX yang sangat megah menurut saya. Bagunannya yang bertembokkan kaca, tiang dan atap yang berbentuk joglo dan berukiran sulur emas, dsb. Kami disuguhi berbagai macam benda yang dulu berhubungan dengan Sultan dari masa remaja hingga beliau menjadi salah satu orang penting di Indonesia. Dari museum tersebut, yang sangat memikat mata dan pikiran saya adalah sebuah surat yang berbahasa perancis. Saya lupa akan isinya, namun saya memfotonya.
                                                                                 foto tentang berbagai kegiatan Sri Sultan HB IX
                                                                                 foto pakaian Sri Sultan HB IX di Museum HB IX

                                                      stoples cantik dari Museum HB IX
Setelah itu, kami melanjutkan kunjungan di museum cangkir yang terdapat begitu banyak cangkir yang terbuat dari perak, kristal, kaca, dsb. Selain cangkir juga terdapat berbagai macam bentuk sendok yang jadi teman cangkir-cangkir tersebut.


Selesai kunjungan, kami memutuskan untuk menonton pertunjukan tari yang akan segera mulai, sambil menunggu teman-teman yang lain yang berkeliling sendirian.


Untuk tambahan cerita, saya akan menjelaskan beberapa isi museum yang sudah saya kunjungi. Saya pernah mengunjungi MGM (Museum Gunung Merapi). Disana terdapat banyak sekali foto-foto tentang gunung merapi, benda-benda sisa dari bencana meletusnya Gunung Merapi tahun 2010, dan batu-batuan yang terbentuk akibat aktifitas vulkanis. Saya mengunjungi museum tersebut sekitar tahun 2014.Terdapat pula maket Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Gunung Merapi sebagai obyek utamanya
                     https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7pYJ20f-EjlfvXJn5MqB7DjXhoRPKbFOuJqGWHSOVuQbV3A5sQC4rDvrejmTVJDJadzpd7RpcxOf4cp1_TQJkspqB_tqFFz-2qPh83F4Z3NlIcS1fgQgbdfFGKFOkwnKrwWmd72_m2gGE/s1600/musium+gunung+merapi.jpg

Selain MGM, saya pernah mengunjungi Museum Benteng Vredeburg, Museum Dirgantara, Museum Jogja Kembali, Museum Sono Budoyo, Gedung Agung (Istana Negara yang berlokasi di Yogyakarta), museum koleksi batu asli candi di daerah Prambanan/Kalasan, dsb. 
                                https://images.detik.com/customthumb/2013/06/13/1025/img_20130613141954_51b9729ac40d9.jpg?w=600
Hal yang saya sukai ketika pergi ke Museum Benteng Vredeburg adalah jajan di coffeshop di Museum tersebut. Indische Koffie terkesan sangat klasik dan nyaman, disana juga terdapat grand piano yang dapat dimainkan oleh pengunjung, dan toko oleh-oleh kecil yang berisi pernak-pernik pakaian.

Yusuf Nur Cahyanto (399785)

Museum Siti Hinggil Pagelaran Karaton Ngayogyakarta

Selasa, 29 November 2016

  Kuliah saat itu berakhir pada pukul 12.40. Saya dan 3 teman saya bergegas menuju museum, tujuan kita langsung menuju Museum Siti Hinggil Pagelaran Karaton Ngayogyakarta. Sebuah museum yang terdapat di Keraton Kasultanan Yogyakarta. Perjalanan memakan waktu sekitar 15 menit dari UGM.
       Sesampainya di sana kami langsung menuju loket untuk membeli tiket seharga Rp.4000 per orang, dan untuk biaya fotografi sebesar Rp.2000,. Setelah membayar kita langsung masuk ke area Keraton dan langsung menuju ruangan museum. Di sana terdapat beberapa keris dan kuluk (semacam mahkota yang dipakai Sultan). Setelah itu kita menuju ruangan berikutnya, di sana terdapat satu set gamelan dan ada pula sebuah pedati kuno. Sayang sekali kita tidak menemukan kereta kencana yang terpajang di sana. biasanya setiap acara sekatenan ada kereta kencana yang dipajang.
      Yang saya suka dari museum ini adalah lokasinya yang terdapat di dalam lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta.


Museum Dharma Wiratama

Rabu, 30 November 2016

       Pada pukul 14.00 saya dan teman saya berangkat menuju Museum Dharma Wiratama. Sebuah museum angkatan bersenjata milik TNI AD yang letaknya di daerah Terban, Gondokusuman Yogyakarta. Perjalanan dari UGM memakan waktu sekitar 5 menit.
       Sesampainya di sana, kita langsung disuguhi 2 buah tank yang dipajang di depan museum. untuk masuk museum ini kita tidak dipungut biaya sama sekali, tetapi kita wajib melapor dan mengisi daftar hadir yang sudah di siapkan di sebuah pos. selesai mengisi daftar hadir, kita langsung memasuki museum, pertama kita memasuki ruangan Letjen Urip Sumoharjo dan ruangan Panglima Jenderal Sudirman. disitu terdapat sejarah singkat dari kedua pahlawan tersebut. Setelah itu, kita memasuki ruangan inti museum, di sana terdapat beberapa seragam TNI pada masa penjajahan, dan persenjataan perang pada masa penjajahan. ada juga sejarah-sejarah perang, seperti perang palagan Ambarawa, dan perang lainnya. Di sana juga terdapat alat komunikasi pada masa penjajahan seperti radio, telepon kuno, dan ada alat untuk menyiarkan berita asli milik RRI pada masa penjajahan.
      Saya tertarik pada museum ini karena semua barang-barang pada masa penjajahan masih tertata rapi, terawat. dan sejarah pahlawan dari Purworejo seperti Letjen Urip Sumoharjo, dan Jenderal Ahmad Yani yang terdapat di museum ini.




Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Kamis, 1 Desember 2016

  Sore itu, pada pukul 15.00 saya dan teman saya melanjutkan misi untuk mengunjungi museum. kali ini saya mengunjungi Museum Vredeburg Yogyakarta. Sebuah museum yang letaknya di jalan Jenderal A. Yani 6 Yogyakarta yang isinya tentang sejarah dari masa perjuangan sampai dengan masa Orde Baru bangsa Indonesia. Perjalanan dari UGM memakan waktu sekitar 10 menit.
        Sesampainya di sana, kami langsung memarkirkan motor dan dikenakan biaya sebesar Rp.2000. setelah itu kami menuju loket untuk membeli tiket masuk. Harga tiket masuk museum sebesar Rp.2000 per orang. setelah membeli tiket, kami langsung memasuki museum. di dalam museum terdapat beberapa ruangan yang berisi diorama-diorama dari masa perjuangan sampai dengan masa Orde Baru. Di setiap diorama ada tombol yang apabila ditekan tombol tersebut akan ada suara yang menceritakan setiap kejadian yang ada pada masa yang ada pada diorama tersebut.
       Saya tertarik pada museum ini karena sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari masa Perjuangan sampai masa Orde Baru yang cukup lengkap dan dapat menjadi referensi liburan keluarga.





R. Gilang Septa Mulya (399779)

MUSEUM BENTENG VREDEBURG

         Hari ini saya dan teman saya berniat untuk pergi kebeberapa museum yang ada di Yogyakarta, selain karena kami mendapat tugas dari mata kuliah (Dasar Dasar Ilmu Budaya) saya juga ingin lebih tau ada apa saja di Yogyakarta ini, karena kebetulan saya sendiri bukan orang Yogya dan termasuk baru di Yogyakarta. Di hari yang cerah kami berangkat menuju Museum Benteng Vredeburg yang beralamatkan di Jl. Jend. A. Yani No.6 Yogyakarta,  Setelah memakirkan motor dan membayar parkir motor Rp 2000 dan tiket masuk seharga Rp 2000.

          Benteng yang dibangun pada tahun 1765 oleh Pemerintah Belanda ini digunakan untuk menahan serangan dari Kraton Yogyakarta. Dengan parit yang mengelilinginya, benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara di keempat sudutnya dan kubu yang memungkinkan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga. Dan dijadikan Museum Khusus Perjuangan Nasional (Museum Benteng Yogyakarta) pada tanggal 23 November 1992.

          Kesan pertama ketika saya masuk kedalam museum saya terkesan dengan bangun lama yang masih terawat dan masih terlihat kokoh dan banyak sekerumpulan orang yang sedang berkunjung juga dan dalam berbagai kegiatan. Kami langsung meuju ruang diorama dan melihat lihat berbagai macam benda bersejarah seperti pakaian tentara Indonesia, pakaian PMR dan Pakaian dari karung goni dan ada peninggalan dari rektorat pertama UGM yaitu Alm. Sardjito, bahkan terdapat sebuah ruangan dimana terdapat area game tentang sejarah di Indonesia. Dan yang saya amati dari Museum Benteng Vredeburg memiliki:

Bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang masih terawat.
Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai masa Orde Baru.
Koleksi benda-benda bersejarah,foto-foto dan lukisan tentang perjuangan nasional.
Dan berbagai Fasilitas untuk menunjang kegiatan selama berada di museum .
Setelah selesai berkeliling dengan perasaan yang puas, kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk pergi ke beberapa museum lagi.

Toga Prof. Dr. Sardjito
Pertemuan Perumusan UGM


Mata Uang Jepang


Pakaian Tentara Pelajar Sugeng Darsono


MUSEUM KERATON YOGYAKARTA

          Kami berangkat menuju Museum Keraton Yogyakarta yang berada didekat Malioboro, kami memakirkan motor kami dan membayar parkir Rp 2000 dan tiket masuk Rp 5000 tetapi ada tambahan biaya lagi untuk perizinan video/photo Rp 2000.

          Museum Keraton merupakan tempat tinggalnya Sultan Yogyakarta dan penjaganya merupakan abdi dalem yang memiliki kepatuhan dan kesetiaan yang tinggi terhadap sultan. Ketika kmai masuk kami langsung melihat pendopo yang sangat besar dan dikelilingi oleh rantai dan terjaga rapih, setelah kami melihat lihat kami langsung menuju ruangan barang barang peninggalan sultan dan terdapat kaca yang tinggi lalu kami meuju ruangan di sampingnya yang terdapat satu set gamelan tetapi tidak untuk dimainkan dan beberapa foto Sultan Hamengku Buwono IV hingga yang ke X dan beberapa foto kereta kuda.

          Kami tidak berada lama di museum keraton karena hari mulai mendung dan kami harus segera pergi menuju museum lain.

Sri Sultan Hamengkubuwana X bersama Ratu Hemas

Cermin Koleksi Keraton
Gamelan Penabuh Keraton



Tempat Upacara Keraton


MUSEUM DIRGANTARA MANDALA TNI-AU

           Waktu menuju sore hari dan kami bergegas menuju Museum Dirgantara TNI AU, selama dalam perjalanan kami melihat deretan sekolah dari SMP,SMA,SMK Dirgantara dan berada di area TNI AU,  Kami memarkirkan motor kami di area parkir dan membayar Rp 200 dan tiket masuk sebesar Rp 4000.

           Museum Dirgantara diresmikan pada tanggal 4 april 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin. Ketika kami masuk kearea museum kami disuguhi pesawat yang di parkirkan di lapangan dan meiliki bentuk yang yang hebat  dan ketika berada di dalam museum kami melihat berbagai peninggalan bersejarah yang berasangkutan dengan kegiatan TNI AU dan Penerbangan seperti Rudal,senjata tempur,pakaian teknik,pilot,TNI AU dll, bahkan ada contoh pakaian untuk setiap pangkat dan jabatan dari setiap posisi, tetapi bagian yang paling saya suka adalah koleksi senjata dan pesawat yang berada di bagian belakang museum. Walaupun sudah tidak dapat berfungsi lagi tetapi dari melihatnya kita dapat mengetahui seberapa hebat dan beraninya pendahulu kita dalam bidang penerbangan dan membuktikan bahwa indonesia harus di perhitungkan dalam pasukan TNI AU.

          Setelah mengelilingi museum kami menuju pintu keluar dan terdapat toko souvenir yang menyediakan berbagai macam oleh oleh yang bersangkutan dengan museum dari miniatur pesawat, pakaian dan tas dan yang lainnya, lalu kami menuju keluar dan melihat hari mulai gelap dan kami menuju keparkiran untuk menuju motor kami dan pergi pulang.

Patung Dua Pilot Indonesia
Pakaian dalam (Pol.) TNI-AU

Senjata TNI-AU

Helikopter

Senin, 05 Desember 2016

Sofi Sajidah Hakim (399784)



MUSEUM BENTENG VREDEBURG

Yang saya sukai sejak awal memasuki kompleks Museum Benteng Vredeburg adalah arsitekturnya.





Museum ini berisi rekaman jejak perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan yang terjadi di wilayah Jogjakarta.

  

Koleksi di Museum Benteng Vredeburg didominasi oleh diorama-diorama peristiwa penting di masa lalu.


Diorama skala 1:1




 MUSEUM SONOBUDOYO

Terletak di kompleks Keraton, Museum Sonobudoyo mudah dikunjungi karena terletak tak jauh dari akses masuk Keraton.

Musik gamelan menyambut saat mulai memasuki museum.

  

Koleksi dari museum ini adalah bukti-bukti kekayaan kebudayaan Indonesia di tanah Yogyakarta.





Miniatur Candi Borobudur





MUSEUM NASIONAL JOGJA

Karena titelnya yang "nasional", ekspektasi saya cukup tinggi sebelum mengunjungi museum ini. Namun ternyata, untuk menemukannya pun tidak mudah karena akses masuknya bukan jalan utama kota. Dan ternyata suasannya sangat sepi. Tidak ada orang di pos jaga, jadi tidak ada yang bisa ditanyai.

 

Saat masuk ke dalam, ternyata sedang diadakan pameran perfilman di gedung utama museum. Merasa salah masuk, kami bertanya pada panitia dimana pintu masuk utama museum. Kami diberi tahu di sisi timur gedung tersebut terdapat loket. Kami keluar dan bertanya pada petugas di loket. Beliau mengatakan pintu masuk utama adalah tempat diadakannya pameran tadi. Akhirnya kami masuk ke area pameran saja.



Loket

Pameran yang sedang diadakan saat itu adalah pameran perfilman yang memamerkan kara-karya komunitas film lokal Yogyakarta. Dari kampus perfilman, komunitas-komunitas film kampus, hingga komunitas-komunitas independen lainnya.
  






 






Merasa belum menemukan museum yang kami cari, kami terus menelusuri wilayah museum sampai keluar da gedung utama.
Dan yang kami temukan adalah, sekolah, TK, dan anak-anak yang sedang mengikuti kegiatan ekstrakrikuler.


Beberapa anak yang menawari kami jelly buatan mereka

Ternyata ekspektasi besar saya soal Museum Nasional Jogja sangatlah berbeda dengan kenyataannya. Jogja Nasional Museum merupakan faslitas yang bisa digunakan masyarakat untuk mengadakan berbagai acara. Salah satu perhelatan besar yang pernah diadakan di Museum Nasional Jogja adalah Art Jog 2016.